Wednesday, June 23, 2010

He whispered, "I love you, babe."



They both sat there together under the clear night sky. It was so much more than that boy could say. He stared at her like she was the one and only girl exist in this world.

And then the boy leaned forward, approaching his face to hers. But he tilted his head until his lips got next to her ear.

He whispered, "I love you, babe."

The girl froze. She looked away and still kept silent.

However, she felt a very uncomfortable silence. She couldn't stand anymore. She pulled away from the boy and decided to walk away from there.

After a few steps, she stopped and turned around to the boy.

She said, "Come on little brother, let's go home. It's cold outside."

The boy sat up and followed his sister's steps, yet, with an unpredictable expression.

Tuesday, June 22, 2010

dudu.. dududududu




really! this jingle surely can make my day!

Tango Waffle Crunchox Jingle

Take me to high above
I will declare my love…
For you dear…
Dudu…dududu…

The sky is beckoning
And it’s my reckoning
To go out Dududu….

Climb the highest hill
To versus lightest chill
What a lovely thrill to see

And if you wanna go, downtown just let me know…
We’ll go there…
Dudu…dudu…dudu…

‘Coz you’re just so sweet
I’ll buy you a Crunchox treat to enjoy…
Dudu…dududu…

We’ll take to the stage
So lets elaborate
And then get on the way, with your soul

Dudu…dududu…
Dudu…dududu…
Dudu…dududu…

Dudu…dududu…
Dudu…dududu…
Dudu…dududu…

Dudu…dududu…

Dudu…dududu…
Dudu…dududu…

Crunchox
Dudu…dududu…

Sunday, June 20, 2010

Tamu

Maafkan aku Mama karena menangis terus.
Maafkan aku Papa karena menangis terus.
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menangis.
Aku hanyalah seorang bayi.

Maafkan aku karena selalu merepotkanmu saat tengah malam, Mama.
Maafkan anakmu ini yang selalu menyusahkanmu di tengah malam, Papa.
Tapi aku memang benar-benar takut. Amat sangat takut.
Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain menangis.

Jika saja aku bisa mengatakannya, akan kusampaikan apa yang mengusikku.
Aku benar-benar membeci ketika malam tiba.
Aku benar-benar tidak suka dengan tamu yang kalian persilakan masuk malam-malam begini.
Aku benar benar tidak suka setiap malam dia datang untuk menyapaku.
Oh Mama, tidak bisakah kau mengusir dia saja?
Oh Papa, tidak bisakah kau menyuruhnya pergi?
Tidak bisakah kalian melihat dia?

Dia berada di sampingku, di samping kita, setiap malam.
Rambutnya yang panjang. Wajahnya yang pucat sempurna. Bola matanya yang seluruhnya putih. Bibirnya yang meneteskan darah. Tubuhnya yang tidak menapak.
Dia menyeringai padaku.
Mama, Papa, maafkan aku yang tidak bisa menahan tangis.

Mama, Papa, tamu macam apa yang kalian persilakan masuk ini?

Friday, June 18, 2010

Jembatan



Sudah kamu kasihkan ke dia kan bunganya, Nun?

Iya. Sudah kok. Ada apa?

Dia kok nggak datang?

Sabar dong, Ndi. Dia pasti datang. Dia kan selalu nepatin janji.

Tapi dia nggak pernah telat, Nun. Benarkan sudah kamu kasihkan sama nama tempat dan jamnya?

Sudah. Di jembatan itu kan? Sudah.. Pokoknya kamu tenang aja. Aku yakin dia datang kok.

Okay. Thank you, Nun.

tut.. tut.. tut..

Iya, Ndi. Arwahnya mungkin benar-benar datang. Kurasa dia akan mencari jasadnya yang sudah aku lempar ke sungai dari jembatan itu, sehari sebelum kau datang ke situ.

Kutinggalkan Hidupku Bersamanya

Pada tengah malam kuputuskan untuk berhenti sejenak di tempat ini sambil mengisi bahan bakar untuk mobilku. Kuperkirakan nanti subuh aku akan sampai di tujuan. Meskipun lelah, kurasa aku tak boleh menyerah.

Mataku menangkap sesuatu. Kuperhatikan lekat ibu itu dari jauh. Di usianya yang kian senja itu, dia tetap bekerja hingga larut seperti ini. Kuperhatikan dagangannya sepertinya masih tak tersentuh.
Akhirnya kupustuskan untuk keluar dari kereta sejenak. Kuhampiri ibu itu.

"Jual apa Bu?"

"Sega uduk, Nak." Logat Jawa yang cukup khas.

"Saya beli satu bungkus ya Bu."

"Iya."

"Ibu, malam-malam begini kok masih bekerja?"

"Ibu sudah ndak punya siapa-siapa nak. Ibu harus mencukupi kubutuhuan sendiri. Makanya ibu jualan nasi."

"Memangnya anak-anak Ibu kemana?"

"Anak ibu wes 'ra di sini lagi. Wes lunga 'ra bali-bali."

Hatiku terenyuh. Aku juga begitu.. Mak, apakah engkau baik-baik saja? Apakah engkau juga masih menjajakan nasi seperti ibu ini? Maafkan aku, mak..

"Ini nak nasinya."

Lamunanku terpecah. "Oh iya Bu. Ini uangnya."

"Lho nak! Ini kebanyakan! Iki satus ewu?" Ibu itu tampak kaget dan bingung. Mungkin dalam seumur hidupnya tak pernah sekalipun uang itu berada di tangannya.

"Iya Ibu. Nggak apa-apa. Ambil saja. Buat kebutuhan ibu."

"Ya Allah Gusti.. Alhamdulillah.. Matur suwun, Nak." Kulihat samar ada setitik air mata dari pelupuknya.

"Sama-sama ibu. Saya permisi dulu."

Dan itulah terakhir kalinya aku bertemu dengan ibu tua itu.

***

Aku mau pergi Mak! Aku ndak kuat hidup seperti ini! Aku ora arepe mulih nganti aku bisa nggawakake Mak dhuwit sing akeh! Aku ora mulih nganti bisa numbasake Mak omah apik!

Ya, Mak. Sepuluh tahun berselang semenjak aku pergi dari Mak.
Aku telah menjalani hidup yang bahkan tidak terbayangkan oleh orang lain. Siksaan, cercaan, makian, hinaan, dan pelecehan. Semua sudah kualami Mak. Anakmu ini menghamba pada yang lain, mengais untuk sesuap nasi, hingga bekerja bagaikan mesin tak bernyawa namun dengan imbalan tak setimpal.
Namun lihat anakmu ini sekarang, Mak. Janji anakmu sudah ditepatinya.

Kuhembuskan napas yang panjang. Di awal hari ini, langit begitu cerah. Seperti apakah rupamu sekarang Mak? Masih ingatkah kau padaku?

Kubelokkan mobilku pada tikungan terakhir itu dan berhenti di depan jalan setapak. Ternyata jalan itu masih sama seperti dulu. Hanya itulah satu-satunya jalan masuk ke kampungku dulu itu.
Kulangkahkan kakiku dengan mantap menuju kampung. Dimana kami, aku dan Mak, tinggal di sebuah rumah bambu.
Namun hatiku mengatakan ada sesuatu yang amat salah telah terjadi. Setelah beberapa puluh meter berjalan, aku tidak menemukan sebuah kampung pun. Seharusnya pada tempatku saat ini ada sebuah parit kecil dan tepat dihadapanku seharusnya kampungku sudah terlihat.
Namun parit ini tampaknya telah menjadi saluran kering tanpa air. Dan yang membuatku lebih tak nyaman lagi, yang kulihat di depanku bukanlah rumah-rumah bambu. Sama sekali bukan sebuah kampung. Melainkan jajaran pohon kamboja yang terlihat cukup rapat menaungi tanah-tanah dibawahnya.
Ya. Itu adalah sebuah... kuburan.
Pikiranku kacau. Bagaimana mungkin kampungku diubah menjadi pemakaman?
Aku berlari memutar pemakaman. Seharusnya ada sungai dan sawah di sana.
Ya benar. Kutemukan areal persawahan dan sungai terlihat disana. Lalu kemana kampungku pergi?
Aku berlari kembali menuju ke dalam mobil. Aku bingung. Jantungku berdebar keras. Berjuta pertanyaan berputar-putar di kepalaku. Kemana kampunku? Kemana Mak?
Ya Tuhan, ada apa ini?

tok tok tok.

Aku kaget. Terlihat seorang bapak tua dengan sepeda butut mengetuk mobilku.

"Permisi Nduk."

"Ada apa ya Pak?"

"Ndak. Cuma dungaren wae kok ada mobil bagus ana ning kene. Seumur-umur di tempat ini, baru kali ini ada orang yang ke sini."

Pikiranku berputar. Langsung kubalas bapak itu dengan pertanyaan.

"Bapak, kampung yang ada di sebelah situ kok nggak ada? Bukannya ada kampung ya di situ?" Kutunjuk arah jalan setapak itu.

Ekspresi wajah bapak itu terlihat aneh. Sulit ditebak. Campuran antara kosong, bingung dan sedih.

"Pak?" pintaku lagi.

Perlahan bapak itu berbicara. "Konon dulu ada seorang ibu tua yang tinggal sendirian di kampung itu. Kata orang, dia ditinggal lunga anake. Lha suatu hari, pas malam-malam, rumahnya ibu itu kobongan dan apinya merambat ke rumah orang-orang sekampung. Cuma beberapa orang thok yang selamet. Mangkane kuwi sekarang tempat itu dijadikan makam. Korbannya langsung dikubur di situ."

Aku merasa mual. Lututku lemas.

"Kebakaran, Pak? Kok bisa?" tanyaku lirih.

"Iya kebakaran. Katanya beberapa orang yang selamat, ibu itu ketiduran pas masak sega buat dijual besoknya."

Lidahku kelu. Tanpa kuucap sepatah kata lagi atau bahkan terima kasih, kututup jendela mobilku dan kupacu mobilku sekencang-kencangnya. Kutinggalkan tempat itu. Kutinggalkan hidupku bersamanya..

Aku belajar hanya dengan seratus kata saja

100 Kata: Kumpulan Cerita 100 Kata 100 Kata: Kumpulan Cerita 100 Kata by Andi F. Yahya


My rating: 5 of 5 stars
and I learned sadness, happiness, love, affection, purity, anger, truths, lies, fuck, swears, murder, psychotic, suicide, secret sins, artificial humanity..then it was,Sick.Dark.Awesome.Surprising.Mesmerizing.Crazy.Marvelous.Insane....Psychotic, sick-hypnotic!

View all my reviews >>

Wednesday, October 28, 2009

...ketika Sang Bintang mengakhiri hidupnya.


... bahkan kau telah terpana olehnya. Setiap malam kau posisikan dirimu diatas situ. Semuanya demi kau pakukan tatapanmu ke antariksa, demi memandangnya, memandang bintangmu. Bintang yang selalu menerangi malammu.
Kau selalu mengeluh ketika angkasa menggantungkan tirani kelabunya di langit malammu. Pada akhirnya kau jadi membenci hujan yang menyebabkan kau tak dapat menatapinya, mengasihinya.
Namun malam ini entah mengapa sangatlah berbeda. Kutangkap dari sudut mataku engkau sungguh tak biasa. Bahkan tadi ketika senja belum meninggalkan kaki langit, engkau telah siaga memakukan tatapanmu ke antariksa, dunia gemerlapmu. Seolah kau mencari-cari bintangmu itu yang nyata-nyata selalu hadir untukmu di setiap malam.
Tadinya ingin kubiarkan engkau tetap bermain-main. Lagi. Seperti biasanya. Namun tak bisa kutahan diri ini untuk tidak mendekatimu, yang di tengah malam ini tak bergeming melihat bintang bagaikan orang yang tak waras.
"Apakah engkau ingin benar-benar jadi tak waras?" tuntutku pelan.
"Inilah saat dia mengakhiri hidup," sekonyong-konyong engkau terlihat begitu cemas. Cemas yang tertutup selubung dingin. Dingin malam. Dingin hatimu. Dingin yang memaksaku menatap titik mungilmu di atas sana.. Memaksaku memahami.
Titik yang sangat megah dan mewah. Sangat membius. Pancarnya yang begitu menyilaukan. Mengagumkan. Begitu terang. Tak akan ada yang mungkin menolak menatapnya. Tidak juga aku. Tidak pula engkau, meski kelu kau dibuatnya.
"Massanya telah habis," kuutarakan ketakjuban yang mengerikan ini.
"Materinya sudah tak mampu membentuk dan..."
"...memancar..."
"...dan menyebar."
"Dan hingga terangnya memuai begitu memukau, ..."
"...dia lenyap. Tak berbekas."
"Selamanya."
"Inilah akhirnya."

"Supernova."

...dan titik magis itu hilang dari semesta seiring menetesnya sebuah titik dari pelupukmu.